Minggu, 26 Januari 2014

UAS, Liburan, dan Zombie!



Dua minggu lalu hari-hari yang aku lalui terasa begitu berat dan menyiksa (haha..lebay dikit). Ujian akhir semester pertama di kuliah S2 dua minggu yang lalu itu benar-benar menyita pikiran, tenaga, waktu, dan uang (efek stres banyak jajan). Sistem ujian akhir take home yang berlaku bagi semua mata kuliahku itu meringankan sekaligus relatif memberatkan. Meringankan karena aku memiliki banyak waktu untuk berpikir dan mencari materi sebelum menjawab soal ujian dari dosen. Pada saat yang sama take home exam, yang memberikan banyak kesempatan bagiku untuk mencari banyak referensi itu, seakan mengharuskanku untuk memberikan jawaban yang sempurna lagi panjang! Dasar mungkin aku bukan orang yang mudah puas dan pe de dengan jawaban seringkali aku berputar-putar pada satu soal saja dengan maksud agar medapat jawaban yang so perfect! Inilah yang kemudian menjadi sumber keletihanku, selayaknya abang becak yang ngangkut sapi hamil seharian (haha...). Untuk menjawab satu soal saja kadang aku menghabiskan waktu1-3 jam! Memang untuk beberapa mata kuliah format pengerjaan soal itu berupa makalah. Jawaban untuk satu soal membutuhkan elaborasi yang panjaaaaang sekali! Dalam waktu 1-3 jam bahkan lebih itu aku diharuskan menjawab seilmiah mungkin tidak boleh asbun (asal bunyi) dan astul (asal tulis). Setiap kalimat penting harus ada foot note. Sebab kata Bu Endang, dosen Sistem Ekonomi Amerika yang kaya akan pengetahuan dan filosofi, sebagai mahasiswa S2 dalam menjawab persoalan kita dituntut untuk menunjukan intelektualitas kita bukan emosional. 

Minggu, 27 Oktober 2013

Melihat Islam Lebih Jernih


Agama, dalam hal ini Islam, datang menawarkan nilai-nilai luhur bagi umat manusia. Islam sendiri muncul dalam kondisi dimana kemunduran akhlak masyarakat pada saat itu jelas terlihat. Tradisi Islam menyebut keadaan masyarakat Arab pra-Islam sebagai masa Jahiliah. Ikatan sosial masyarakat Arab sebelum Islam muncul didasarkan pada identitas keluarga dan kesukuan. Oleh sebab itu, perang antar suku untuk menunjukan siapa yang kuat dan siapa yang lemah tidaklah sulit ditemui pada saat itu. Baru kemudian, seorang yang oleh masyarakat setempat diberi julukan Al-Amin (yang dapat dipercaya), Muhammad bin Abdullah, membawa Islam ke dalam kehidupan masyarakat. Perlahan tapi pasti agama Islam yang dibawa oleh Muhammad SAW itu mampu mengubah tradisi-tradisi yang tidak mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan. Identitas kesukuan yang dijadikan sebagai ikatan sosial kemudian diperluas oleh Muhammad SAW menjadi identitas keimanan. Mereka yang percaya kepada Tuhan dan berkomitmen untuk menegakan nilai-nilai kemanusiaan, seperti sikap saling menghargai dan menjaga kedamaian berada dalam satu ikatan dan wajib saling melindungi satu sama lain. Hal demikian itu tercermin dari Piagam Madinah yang diinisiai oleh Nabi SAW.

Dari awal kemunculannya Islam sudah menunjukan semangat perubahan yang fundamental. Perubahan dari sistem kepercayaan yang politheis (banyak tuhan) menjadi monotheis (satu Tuhan). Islam juga menekankan persamaan hak manusia untuk dihormati tanpa memandang warna kulit, jenis kelamin, ataupun kepemilikan harta benda. Semua manusia adalah setara, yang membedakan dihadapan Tuhan adalah ketaqwaannya. Begitulah salah satu pesan dalam Al-Qur’an. Kepedulian Islam akan nilai-nilai luhur juga tercermin dari apa yang Nabi Muhammad SAW lakukan dalam kesehariannya. Islam tidak menganjurkan penganutnya untuk membenamkan diri dalam ritual-ritual vertikal (habluminallah) saja. Secara konsep, Islam hadir untuk menjadi sebuah agama yang memberikan keamanan dan keselamatan manusia di dunia dan kehidupan setelahnya. Sebab itulah, Nabi Muhammad SAW dalam kesehariannya mengejawantahkan wahyu-wahyu Allah dengan berperan sebagaimana manusia pada umumnya. Sebagai Nabi, Muhammad SAW menikah, makan, minum, dan bersosialisasi dengan masyarakat. Dari berbagai aspek Nabi Muhammad SAW layak dijadikan panutan bagi mereka yang menginginkan keselamatan dalam hidupnya. Beliau menjadi role model dalam berbagai peranan, baik sebagai seorang Suami, Ayah, Tokoh Masyarakat, bahkan Kepala Pemerintahan.

Semakin menggali Islam, akan semakin banyak kearifan yang bisa didapatkan darinya. Hanya pada praktiknya, Islam sebagai sebuah ajaran, tidaklah bisa disamakan dengan laku para penganutnya itu sendiri, yang disebut sebagai umat Muslim. Jikapun kemudian antara Islam dan kaum Muslim disamakan maka yang terjadi adalah paradoks. Contoh yang mudah saya dapatkan dari sebuah artikel pendek yang ditulis oleh KH. Mustafa Bisri Rembang. Suatu kali beliau melancong ke luar negeri (Jepang). Beliau kagum akan ketertiban dan kebersihan yang ada di Jepang, yang mana mayoritas penduduknya bukanlah penganut Islam. Dalam Islam sendiri diajarkan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Kenyataannya, Indonesia yang mayoritas Muslim dan tidak asing dengan redaksi hadits itu justru tidak sepenuhnya memahami dan mengamalkannya.

Minggu, 13 Oktober 2013

Can I Write Again?


Writing is an activity which is not easy to do for those who never did any writings before. I personally seldom write, especially in English. Now, I find it difficult to write or elaborate a particular idea. That is absolutely a big deal for me since I am a graduate student who is expected to be productive in writing scientific essais. Nevertheless, I used to like writing much. I wrote many articles using my mother tongue. Yet, now I almost forget how to start writing. Questions, such as; what I should write about, where I should start to write, and what my writing will look like often disturb me. Moreover, It becomes funny and may be a bit ridicolous when I spend almost thirty minutes only to find a sentence to elaborate.  

One of my friends has said before, that to have a good writing we need to “consume” a good input as much and effective as possible. The input, of course, can be gained by reading. By reading, someone will have much information related to the topic he will write. It, for me, does make sense. Besides that, in my opinion, to be a good writer whose writings are good too, it is also a matter of time. In other words, there is no short cut to be a master. A process is something necessary to experience by a master to be, like me.

Another way to be a good writer, perhaps, is to start writing any topics in which we are attracted in. Checking my blog, I understand that the topic I like to write is moral. I collect a lot of books about moral teaching. Well-known figures, such as Prophet Muhammad, Gus Dur, Emha Ainun Najib, Quraish Shihab, and so on, are inspiring me. More or less, my writing style will be influenced by those figures. I believe that to be useful for the others someone need to be both able to write and to work. Let’s say, a former president of Indonesia, Ir. Soekarno. Not only did he could inspire people by his real works and awsome speeches but also he wrote many articles, which later, became a significant issue among people.

Fear of making mistakes could also be an obstacle to be able to write. Since I think that everything should be correct, true, and academically proven it becomes difficult for me to write easily. However, I do not say that someone is free to write anything he wants. To be fearless of making mistakes is rather a motivation so that someone can write. It is not a must. Start writing easy topics like ourdaily life or a diary, perhaps it gradually will increase someone’s writing’s skill. By practicing much, I expect to be a good writer, both writing a scientific paper and a free article. There is no use regreting our stupidity. It is better start practicing and keep the fire on! Bismillah...!



Minggu, 21 Juli 2013

Memiliki-Kehilangan



Kehilangan sesuatu yang kita miliki tapi tidak begitu kita cintai rasa dukanya tentu tidaklah sama dengan kehilangan sesuatu yang kita miliki sekaligus sangat kita cintai. Belum lama ini saya kehilangan sesuatu yang saya cintai. Sesuatu yang mungkin menurut sebagian orang tidaklah penting dan berharga. Namun bagi saya dan adik-adik saya sesuatu itu begitu penting dan berharga karena kebersamaannya dengan kami selama ini.

Ya. Tiga, empat hari yang lalu seekor kucing yang kami beri nama Tama tertabrak sepeda motor hingga membuat dirinya sakit selama dua hari dan akhirnya ia pun mati. Mungkin bagi sebagian orang kami terkesan berlebihan dalam memperlakukan dan memandang Tama yang hanya seekor kucing itu. Namun tanpa ada niat sedikitpun untuk berlebihan kami ingin berbagi kasih sayang kepada makhluk Allah yang seekor kucing itu. Meski hanya seekor kucing, yang derajatnya tidak lebih tinggi dari manusia. Namun bukankah Allah sendiri menyuruh kita, manusia, untuk menjadi rahmat bagi seluruh Alam? Tentu yang termasuk Alam adalah segala ada di alam semesta ini. Termasuk didalamnya tumbuhan dan hewan.

Kurang lebih delapan tahun lamanya Tama hidup bersama keluarga saya dirumah. Di tengah-tengah kesibukan kami ia setia pulang ke rumah dan ada bersama kami. Dalam kebersamaan yang relatif lama untuk ukuran hewan peliharaan itu tentu rasa sayang kami kepadanya perlahan muncul dan menguat. Jika satu dua hari saja ia tidak pulang ke rumah pasti satu diantara keluarga kami, entah itu saya atau adik-adik saya, bergegas mencari atau setidaknya bertanya ke tetangga sebelah tentang keberadaannya. Rasa khawatir hilang, dikurung orang, atau bahkan tertabrak kadang terlintas di benak saya jika kucing saya itu tidak pulang. Namun jika ia yang beberapa hari tak tampak di rumah itu kembali pulang maka legalah hati kami. Segera pasti kami memberinya makanan yang lebih enak dari biasanya.   

Senin, 18 Februari 2013

Hidup itu Berbuat


Pastilah kita pernah mendengar kalimat nasihat yang berbunyi hidup adalah perbuatan”. Bagi saya kalimat itu benar adanya. Dulu, sewaktu masih SD saya ingat guru saya pernah menyampaikan dalam mata pelajaran IPA tentang ciri-ciri makhluk hidup yaitu bernafas, bergerak, dan berkembangbiak. Termasuk golongan makhluk hidup itu adalah manusia, hewan, dan tumbuhan. Di antara tiga makhluk hidup tersebut manusia menurut Tuhan memiliki derajat yang paling tinggi. Ini karena manusia dibekali akal dan perasaan. Berbeda dengan hewan yang hanya dibekali insting oleh Tuhan. Seekor singa bisa memakan anaknya sendiri dalam keadaan tertentu. Ini lain dengan manusia yang secara wajar memiliki perasaan kasih sayang yang mendalam kepada keluarganya lebih-lebih anaknya. Manusia memiliki peradaban dengan banyak elemen di dalamnya. Sementara hewan hidup dalam koloni-koloninya masing-masing tanpa perkembangan kecuali karena faktor alam (evolusi). Manusia bisa mengembangkan teknologi yang dari zaman ke zaman bisa berubah sedangkan hewan hidup dengan mengikuti instingnya tanpa bisa mengembangkan teknologi sendiri. Lain lagi dengan tumbuhan. Sepengetahuan saya tumbuhan diciptakan Tuhan salah satunya untuk memenuhi kebutuhan hidup hewan dan manusia. Maka, demikianlah kemuliaan manusia dibandingkan dua makhluk hidup lain di dunia ini.

Kembali pada kalimat nasihat hidup adalah berbuat maka sudah tentu jika kita memahaminya kita akan menyadari bahwa sesungguhnya tanpa berbuat, meski hanya dengan hal-hal kecil, manusia seakan mengingkari fitrah (sifat bawaan) nya. Bahkan lebih ekstrem lagi manusia seakan mati jika tidak berbuat karena ciri-ciri makhluk hidup menurut science adalah bergerak. Sementara saat seseorang berbuat sesuatu hal pastilah ada bagian dari organ fisiknya yang ikut bergerak. Bagi seorang sopir perbuatannya adalah menyetir. Tangannya bergerak. Seorang guru perbuatannya adalah mengajar. Mulut dan anggota badan lain juga bergerak. Itulah dua dari sekian banyak contoh “berbuat”.

Sebagai agama, Islam menganjurkan penganutnya untuk “berbuat” dalam kehidupan ini. Pastinya berbuat kebaikan. Bukankah manusia disebut Allah dalam kitab Qur’an sebagai khalifah fil ardh (pengelola bumi)? Lalu bagaimana bisa seseorang mengelola sesuatu tanpa ia bergerak. Dari sini kita paham bahwa Islam bukanlah semata doktrin tentang surga dan neraka. Namun menurut saya Islam itu seperti halnya software bagi manusia untuk menciptakan kehidupan yang indah berdampingan satu sama lainnya. Kemudian, saya teringat bahwa kanjeng Nabi Muhammad, seperti tertulis dalam sebuah riwayat, menganjurkan agar seseorang tersenyum kepada sesamanya ketika bertemu. Senyum adalah bentuk perbuatan baik yang seakan sepele. Namun dari sabda kanjeng Nabi itu saya memahami betapa Islam ini menghargai amalan (perbuatan) meskipun kecil itu.