Kamis, 04 April 2013

Bekerja itu...?


Seorang ayah merasa kecewa kepada anaknya yang sampai saat ini belum bisa menjadi seperti apa yang diharapkan oleh sang  ayah. Bertahun-tahun sang ayah bekerja keras membanting tulang untuk menghidupi keluarganya. Bertahun-tahun itu pula sang ayah ‘mengalokasikan’ sebagian uang hasil kerjanya untuk pendidikan sang anak. Setelah sekian tahun sang anak mengecap pendidikan formal dan akhirnya bisa lulus dari sebuah perguruan tinggi, sang ayah semakin berharap agar sang anak dapat bekerja sebagai pegawai di instansi yang bergengsi. Namun, tampaknya harapan sang ayah tidak akan terwujud. “Nak..mana hasil kuliahmu. Kok sampai sekarang kamu belum jadi pegawai?” begitulah mungkin keluhan sang ayah. Bukan karena sang anak tidak memiliki kemampuan. Terbukti secara akademik nilainya berada diatas standar normal. Harapan sang ayah harus terkubur karena sang anak merasa tidak tertarik untuk bekerja sebagai pegawai di perusahaan-perusahaan yang diharapkan sang ayah. Meski kata orang bekerja sebagai pegawai tetap di sebuah instansi bergengsi itu memiliki nilai plus tersendiri sang anak bersikeras enggan melamar di perusahaan yang diharapkan sang ayah.

Sudah lazim seseorang yang lulus dari sebuah lembaga pendidikan formal akan memasuki dunia kerja. Ini tentu bukan sesuatu yang salah karena bekerja demi mencari penghidupan yang layak adalah sebuah keniscayaan. Tanpa bekerja, yang merupakan sarana untuk mencari penghasilan, seseorang tentu akan sulit untuk bertahan hidup dalam keadaan yang sejahtera. Belum lagi keyakinan sebagai seorang Muslim bahwa bekerja bukan saja mencari penghasilan materi untuk mencukupi kehidupannya saja. Namun lebih dari itu bahwa bekerja dengan cara yang halal adalah bentuk ibadah kepada Allah. Selanjutnya, apabila keyakinan bahwa bekerja adalah bentuk ibadah kepada Allah telah tertanam kuat dalam hati seseorang maka tentu ia akan menjalankan pekerjaan itu dengan sebaik-baiknya. Apa yang ia kerjakan selama di dunia maka itulah yang akan ia persembahkan kepada Allah di akhirat kelak. Dengan begitu mana mungkin seseorang akan dengan sengaja berbuat buruk dalam bekerja apabila ia sendiri yakin bahwa bekerja adalah sebuah ibadah yang mana harus dilakukan dengan memenuhi standar moral agama itu sendiri. 

Yang menjadi masalah jika ada anggapan bahwa sebuah pekerjaan yang baik itu identik dengan sebuah profesi saja. Sebut saja, sebagai contoh, profesi sebagai PNS. Sebagian masyarakat kita menganggap bahwa profesi PNS adalah profesi yang memiliki nilai prestis yang tinggi. Ketika seseorang mampu menyandang gelar PNS maka ia telah mendapatkan kemuliaan hidup. Lalu bagaimana dengan profesi-profesi lain? Baiklah, mungkin sebagian masyarakat menganggap profesi-profesi lain tidak begitu prestisius sehingga tak heran jika sejak kecil dalam sebuah keluarga orang tua secara sadar atau tidak menanamkan belief kepada anaknya agar ketika besar kelak mampu menjadi PNS! Siklusnya mudah ditebak. Dari kecil diharuskan belajar yang rajin agar pandai kemudian setelah lulus bisa bekerja menjadi pegawai dengan gaji tetap yang cukup. Menurut saya pemahaman model seperti itu tidaklah tepat. Mengapa? Karena dengan menanamkan belief bahwa PNS adalah pekerjaan terbaik maka ruang pikir masyarakat tentang mata pencaharian menjadi tidak kreatif. Mandeg. Selain juga seolah profesi-profesi lain menjadi kelas kedua setelah PNS.

Senin, 18 Februari 2013

Hidup itu Berbuat


Pastilah kita pernah mendengar kalimat nasihat yang berbunyi hidup adalah perbuatan”. Bagi saya kalimat itu benar adanya. Dulu, sewaktu masih SD saya ingat guru saya pernah menyampaikan dalam mata pelajaran IPA tentang ciri-ciri makhluk hidup yaitu bernafas, bergerak, dan berkembangbiak. Termasuk golongan makhluk hidup itu adalah manusia, hewan, dan tumbuhan. Di antara tiga makhluk hidup tersebut manusia menurut Tuhan memiliki derajat yang paling tinggi. Ini karena manusia dibekali akal dan perasaan. Berbeda dengan hewan yang hanya dibekali insting oleh Tuhan. Seekor singa bisa memakan anaknya sendiri dalam keadaan tertentu. Ini lain dengan manusia yang secara wajar memiliki perasaan kasih sayang yang mendalam kepada keluarganya lebih-lebih anaknya. Manusia memiliki peradaban dengan banyak elemen di dalamnya. Sementara hewan hidup dalam koloni-koloninya masing-masing tanpa perkembangan kecuali karena faktor alam (evolusi). Manusia bisa mengembangkan teknologi yang dari zaman ke zaman bisa berubah sedangkan hewan hidup dengan mengikuti instingnya tanpa bisa mengembangkan teknologi sendiri. Lain lagi dengan tumbuhan. Sepengetahuan saya tumbuhan diciptakan Tuhan salah satunya untuk memenuhi kebutuhan hidup hewan dan manusia. Maka, demikianlah kemuliaan manusia dibandingkan dua makhluk hidup lain di dunia ini.

Kembali pada kalimat nasihat hidup adalah berbuat maka sudah tentu jika kita memahaminya kita akan menyadari bahwa sesungguhnya tanpa berbuat, meski hanya dengan hal-hal kecil, manusia seakan mengingkari fitrah (sifat bawaan) nya. Bahkan lebih ekstrem lagi manusia seakan mati jika tidak berbuat karena ciri-ciri makhluk hidup menurut science adalah bergerak. Sementara saat seseorang berbuat sesuatu hal pastilah ada bagian dari organ fisiknya yang ikut bergerak. Bagi seorang sopir perbuatannya adalah menyetir. Tangannya bergerak. Seorang guru perbuatannya adalah mengajar. Mulut dan anggota badan lain juga bergerak. Itulah dua dari sekian banyak contoh “berbuat”.

Sebagai agama, Islam menganjurkan penganutnya untuk “berbuat” dalam kehidupan ini. Pastinya berbuat kebaikan. Bukankah manusia disebut Allah dalam kitab Qur’an sebagai khalifah fil ardh (pengelola bumi)? Lalu bagaimana bisa seseorang mengelola sesuatu tanpa ia bergerak. Dari sini kita paham bahwa Islam bukanlah semata doktrin tentang surga dan neraka. Namun menurut saya Islam itu seperti halnya software bagi manusia untuk menciptakan kehidupan yang indah berdampingan satu sama lainnya. Kemudian, saya teringat bahwa kanjeng Nabi Muhammad, seperti tertulis dalam sebuah riwayat, menganjurkan agar seseorang tersenyum kepada sesamanya ketika bertemu. Senyum adalah bentuk perbuatan baik yang seakan sepele. Namun dari sabda kanjeng Nabi itu saya memahami betapa Islam ini menghargai amalan (perbuatan) meskipun kecil itu.

Jumat, 15 Februari 2013

Bismillah itu....


Suatu kali saya melakukan sebuah perjalanan silaturahmi ke rumah saudara di luar kota. Perjalanan itu berkesan bagi saya. Ya. Berkesan karena selain di sepanjang perjalanan saya bisa melihat pemandangan alam, hiruk pikuk orang-orang dan lalu lalang kendaraan, saya juga mendapat pencerahan dari sopir keluarga saya. Pencerahan itu saya dapat dari sebuah dialog dengan sopir keluarga saya itu, sebut saja namanya Mas Agus. Dialog itu dimulai sesaat setelah saya meminta ibu dan saudara saya yang berada di dalam mobil untuk berdoa. Sudah menjadi kebiasaan kami sekeluarga ketika hendak melakukan perjalanan dengan menggunakan kendaraan adalah berdoa bersama-sama, yang biasanya dipimpin bapak saya. Namun karena pada saat itu bapak tidak ikut bersama kami maka saya berinisiatif untuk memimpin doa. Kami berdoa dengan menggunakan Bahasa Arab yang diawali dengan bacaan basmalah. Bismillahi tawakaltu ‘alallah la haula wa la quwwata illa billah, dengan nama Allah kami bertawakal (menyerahkan urusan), tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah. Begitu kira-kira bunyi doa yang saya panjatkan pada saat itu, disambung kemudian kami membaca Ayat Kursi.

Sesaat setelah kami berdoa Mas Agus tiba-tiba berucap dengan nada yang terdengar sinis “banyak orang membaca bismillah tapi kelakuannya tetap saja jahat”. Saya kemudian mencoba menggali lebih dalam maksud ucapan Mas Agus itu. Saya pun bertanya “maksudnya bagaimana mas?”. Mas Agus pun menjawab sambil menyetir “lha iya kan banyak orang yang pagi hari berangkat ke pasar untuk berdagang dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim tapi sesampainya di pasar mereka saling menjelekan saingannya”. “Terus seharusnya bagaimana mas?” saya lanjut bertanya. “Memakai nama dan sifat Allah itu ya seharusnya bertanggung jawab. Kalau Allah itu Maha Pemberi Kasih (Ar-Rahman) dan Maha Penyayang ya manusia yang mengucapkan basmalah tadi semestinya juga berkelakuan seperti Allah, meskipun tidak sempurna. Kan lucu, lidahnya berucap Allah Maha Pemberi Kasih tapi kelakuan yang mengucapkan justru sebaliknya. Lidahnya sering menyakiti dan menghujat bukannya mendoakan.” Penjelasan dari mas Agus itu tak lantas membuat saya langsung puas. Setelahnya pun saya merenung. Saya pun memiliki beberapa tanggapan soal pendapat mas Agus itu. 

Sabtu, 24 November 2012

Jabatan kok "Alhamdulillah"


“Alhamdulillah akhirnya anda menjadi ketua organisasi x”, “selamat ya atas jabatan barumu”, “selamat atas dilantiknya saudara fulan sebagai ketua organisasi x”.

Sudah lazim kita dengar ucapan-ucapan semacam itu ketika seseorang atau mungkin kita sendiri mendapat jabatan ‘strategis’, sebutlah jabatan sebagai ketua, dalam sebuah organisasi ataupun komunitas tertentu. Setahu saya ucapan syukur ketika mendapat jabatan itu tidak tepat jika ditakar dengan timbangan akhlak. Konon ketika para khalifahur rasyidin memimpin, jabatan adalah sesuatu yang ‘ditakuti’. Mestinya kita pernah mendengar ataupun membaca, kisah meninggalnya Rasulullah SAW yang mengakibatkan para sahabat kebingungan untuk menentukan siapa yang akan memegang peran khalifah sepeninggal beliau. Pada saat itu masing-masing sahabat dekat Rasulullah yaitu sayyidina Umar, Ali, Ustman, dan Abu Bakar RA, saling menunjuk satu sama lain mengenai siapa yang pantas menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah SAW.  Akhirnya setelah melalui musyawarah terpilihlah khalifah pertama pengganti Rasulullah SAW yaitu sayyidina Abu Bakar. Sikap para sahabat itu berbeda jauh dengan kenyataan sikap sebagian orang zaman ini yang berebut kekuasaan karena merasa mampu memimpin.

Dalam kisah para sahabat, respon yang ditunjukan seseorang ketika menerima sebuah amanah bukanlah ucapan-ucapan bahagia seperti yang lazim kita dengar pada masa sekarang ini. Bagi para sahabat, jabatan sebagai khalifah adalah amanah ‘berat’ yang akan dipertanggungjawabkan dihadapan Rabb-nya. Bagaimana bisa, jika dipikir dengan akal sehat, seseorang bahagia mendapatkan sesuatu sementara sesuatu itu merupakan pertaruhan antara ridho dan murka Tuhan. Jika dalam memegang jabatan seseorang bisa amanah maka tentu ridho Allah-lah balasannya. Namun jika yang terjadi sebaliknya maka murka Allah-lah balasannya.

Sekarang ini kita dengan mudah melihat ‘kenarsisan’ para calon pemimpin di tataran legislatif dan eksekutif. Kita mungkin pernah mendengar kalimat-kalimat semacam ini “Pilihlah saya rakyat akan sejahtera”, “Pilih no.sekian untuk Indonesia makmur”, “Fulan: Sholeh, Cerdas, Amanah”. Contoh tagline iklan-iklan kampanye itu mudah-mudahan merupakan cita-cita yang benar-benar muncul dari hati para calon pemimpin kita. Bukan sekedar pencitraan yang ditampilkan untuk mendongkrak suara. Sayyidina Abu Bakar pernah berpesan kepada Umar RA : “Wahai Umar, dalam urusan kekuasaan ini ada dua orang yang celaka : pertama, orang yang berambisi menjadi penguasa padahal dia tahu bahwa ada orang lain yang lebih pantas dan lebih mampu daripada dirinya. Kedua, orang yang menolak ketika diminta dan dipilih padahal dia tahu dirinyalah yang paling pantas dan paling mampu; dia menolak semata-mata karena lari dari tanggung jawab dan enggan berkhidmah kepada umat.”

Pada akhirnya menurut hemat saya memimpin itu karena adanya kepercayaan dari orang-orang disekitar kita. Berambisi memimpin karena ingin dihormati, terkenal, dan ambisi-ambisi negatif lain mudah-mudahan bisa kita hindari. Jikapun orang-orang meminta kita untuk memimpin karena memang mereka percaya kepada kita dan kita mampu untuk menjalani amanah tersebut maka terimalah dengan ikhlas. Pun, ketika menerima jabatan tertentu menurut saya tidak tepat jika kita kemudian melakukan prosesi “tasyakuran”. Kenapa kita tidak menggantinya dengan istilah “doa bersama, agar mampu menjalankan amanah dengan baik dan benar”. Wallahu’alam.     

Senin, 10 September 2012

Aku Sang Hina


Duhai Kesempurnaan
Maafkan aku yang tak sempurna
Untuk sekedar mencintaimu
Untuk sekedar menoleh padaMu

Aku hina dan nista
Aku penuh basuhan noda
Dan kini aku sujud apa adanya
Tanpa daya

Bukan derita aku takutkan
Bukan bahagia aku inginkan
RidhoMu adalah inginku
CahayaMu adalah penerangku