Seorang ayah merasa kecewa kepada anaknya yang sampai saat ini belum bisa
menjadi seperti apa yang diharapkan oleh sang
ayah. Bertahun-tahun sang ayah bekerja keras membanting tulang untuk
menghidupi keluarganya. Bertahun-tahun itu pula sang ayah ‘mengalokasikan’
sebagian uang hasil kerjanya untuk pendidikan sang anak. Setelah sekian tahun
sang anak mengecap pendidikan formal dan akhirnya bisa lulus dari sebuah
perguruan tinggi, sang ayah semakin berharap agar sang anak dapat bekerja
sebagai pegawai di instansi yang bergengsi. Namun, tampaknya harapan sang ayah
tidak akan terwujud. “Nak..mana hasil kuliahmu. Kok sampai sekarang kamu belum
jadi pegawai?” begitulah mungkin keluhan sang ayah. Bukan karena sang anak
tidak memiliki kemampuan. Terbukti secara akademik nilainya berada diatas
standar normal. Harapan sang ayah harus terkubur karena sang anak merasa tidak
tertarik untuk bekerja sebagai pegawai di perusahaan-perusahaan yang diharapkan
sang ayah. Meski kata orang bekerja sebagai pegawai tetap di sebuah instansi
bergengsi itu memiliki nilai plus tersendiri sang anak bersikeras enggan
melamar di perusahaan yang diharapkan sang ayah.
Sudah lazim seseorang yang lulus dari sebuah lembaga pendidikan formal akan
memasuki dunia kerja. Ini tentu bukan sesuatu yang salah karena bekerja demi
mencari penghidupan yang layak adalah sebuah keniscayaan. Tanpa bekerja, yang
merupakan sarana untuk mencari penghasilan, seseorang tentu akan sulit untuk
bertahan hidup dalam keadaan yang sejahtera. Belum lagi keyakinan sebagai
seorang Muslim bahwa bekerja bukan saja mencari penghasilan materi untuk
mencukupi kehidupannya saja. Namun lebih dari itu bahwa bekerja dengan cara
yang halal adalah bentuk ibadah kepada Allah. Selanjutnya, apabila keyakinan
bahwa bekerja adalah bentuk ibadah kepada Allah telah tertanam kuat dalam hati
seseorang maka tentu ia akan menjalankan pekerjaan itu dengan sebaik-baiknya.
Apa yang ia kerjakan selama di dunia maka itulah yang akan ia persembahkan
kepada Allah di akhirat kelak. Dengan begitu mana mungkin seseorang akan dengan
sengaja berbuat buruk dalam bekerja apabila ia sendiri yakin bahwa bekerja
adalah sebuah ibadah yang mana harus dilakukan dengan memenuhi standar moral
agama itu sendiri.
Yang menjadi masalah jika ada anggapan bahwa sebuah pekerjaan yang baik itu
identik dengan sebuah profesi saja. Sebut saja, sebagai contoh, profesi sebagai
PNS. Sebagian masyarakat kita menganggap bahwa profesi PNS adalah profesi yang
memiliki nilai prestis yang tinggi. Ketika seseorang mampu menyandang gelar PNS
maka ia telah mendapatkan kemuliaan hidup. Lalu bagaimana dengan
profesi-profesi lain? Baiklah, mungkin sebagian masyarakat menganggap
profesi-profesi lain tidak begitu prestisius sehingga tak heran jika sejak
kecil dalam sebuah keluarga orang tua secara sadar atau tidak menanamkan belief kepada anaknya agar ketika besar
kelak mampu menjadi PNS! Siklusnya mudah ditebak. Dari kecil diharuskan belajar
yang rajin agar pandai kemudian setelah lulus bisa bekerja menjadi pegawai
dengan gaji tetap yang cukup. Menurut saya pemahaman model seperti itu tidaklah
tepat. Mengapa? Karena dengan menanamkan belief
bahwa PNS adalah pekerjaan terbaik maka ruang pikir masyarakat tentang mata
pencaharian menjadi tidak kreatif. Mandeg. Selain juga seolah profesi-profesi
lain menjadi kelas kedua setelah PNS.
